ALVApipe

7 Penyebab Sistem Drainase Cepat Rusak Saat Musim Hujan dan Cara Mencegahnya

penyebab sistem drainase cepat rusak

Sistem drainase adalah tulang punggung pengelolaan air di kawasan terbangun.

Ketika berfungsi dengan baik, air hujan mengalir lancar, jalan tetap kering, dan fondasi bangunan terlindungi. 

Sebaliknya, ketika gagal, dampaknya langsung terasa. Mulai dari genangan yang tak kunjung surut, jalan retak dan ambles, serta kerusakan infrastruktur yang perbaikannya jauh lebih mahal dari pencegahannya.

Berdasarkan data BNPB, total nilai kerusakan dan kerugian akibat banjir Jabodetabek pada Maret 2025 hampir menyentuh angka Rp1,7 triliun, dengan sektor infrastruktur mencatat kerugian hingga Rp155,9 miliar.

Angka ini mencerminkan betapa mahalnya harga yang harus dibayar ketika sistem drainase tidak dirancang dan dirawat dengan serius.

Satu hal yang sering terlewat dalam diskusi soal banjir adalah bahwa sebagian besar kerusakan drainase sebenarnya bisa dicegah. Penyebabnya bukan curah hujan semata, melainkan juga kesalahan desain, pemilihan material yang kurang tepat, dan minimnya perawatan.

Simak tujuh penyebab paling umum sistem drainase cepat rusak, serta langkah-langkah pencegahan yang bisa diterapkan sejak tahap perencanaan.

Penyebab Sistem Drainase Cepat Rusak yang Sering Terjadi di Lapangan

1. Perencanaan Kapasitas Aliran Tidak Sesuai Debit Air Hujan

Kesalahan paling dasar dalam perancangan drainase adalah menghitung kapasitas aliran berdasarkan data curah hujan lama yang sudah tidak relevan.

Perubahan iklim dan perluasan kawasan terbangun meningkatkan limpasan permukaan. Saluran yang semula dirancang cukup untuk menampung air dari lahan kosong akan kewalahan setelah kawasan sekitarnya berkembang menjadi perumahan atau area industri. 

Solusinya adalah menggunakan analisis hidrologi terkini dengan periode ulang hujan yang sesuai umur rencana proyek, serta menyisakan kapasitas cadangan untuk mengantisipasi kondisi ekstrem.

2. Pemilihan Material Pipa Tidak Sesuai Kondisi Lapangan

Setiap lokasi memiliki karakteristik yang berbeda, mulai dari jenis tanah, kedalaman penanaman, beban lalu lintas di atasnya, dan agresivitas air limpasan. 

Pipa yang dipilih hanya berdasarkan harga termurah tanpa mempertimbangkan faktor-faktor tersebut akan mengalami kerusakan lebih awal dari yang seharusnya.

Pipa PVC standar yang dipasang di bawah jalan dengan lalu lintas berat, misalnya, rentan berdeformasi. Contoh lain, pipa beton yang tertanam di tanah sulfat tinggi akan terdegradasi dalam hitungan tahun. 

Jadi, pemilihan material harus berbasis pada kondisi nyata di lapangan, bukan semata anggaran pengadaan.

3. Instalasi dan Penyambungan Pipa yang Tidak Tepat

Kualitas pipa terbaik sekalipun akan cepat bermasalah kalau instalasinya tidak tepat. Contohnya:

  • Pemadatan tanah urug yang kurang baik di sekitar pipa menyebabkan penurunan tidak merata sehingga berpotensi memicu kebocoran pada titik sambungan. 
  • Kemiringan pipa yang tidak sesuai desain membuat air menggenang di dalam saluran dan mendorong sedimentasi. 
  • Sambungan yang tidak rapat menjadi pintu masuk infiltrasi air tanah yang mempercepat kerusakan. 

Karena itu, proses instalasi harus diawasi ketat, utamanya pada tahap penyambungan dan pemadatan, supaya mencegah biaya perbaikan besar di kemudian hari.

4. Sedimentasi dan Penyumbatan Saluran

Sedimen, sampah, dan material organik yang terbawa aliran air hujan secara bertahap menumpuk di dalam saluran. 

Tanpa pembersihan rutin, endapan ini perlahan mengurangi kapasitas aliran saluran hingga drainase tidak lagi mampu menjalankan fungsinya saat hujan deras.

Namun, hal ini bisa dicegah dengan melakukan jadwal pembersihan berkala menjelang musim hujan.

5. Pergerakan Tanah dan Beban Dinamis

Tanah yang bergerak atau turun tidak merata, seperti yang umum terjadi pada tanah lunak, tanah gambut, atau area reklamasi, memberikan tekanan yang tidak seragam pada pipa. 

Pipa beton rentan retak atau patah dalam kondisi ini. Beban kendaraan berat yang melintas berulang di atas pipa yang tidak dirancang untuk menanggung beban tersebut juga mempercepat deformasi dan keretakan. 

Oleh karena itu, sebaiknya pahami dulu kondisi geoteknik lokasi sejak awal perencanaan agar dapat menentukan pilihan material dan metode instalasi yang tepat.

6. Sistem Drainase Tidak Dirawat Berkala

Sistem drainase sering dianggap selesai begitu konstruksi rampung, padahal justru di situlah tantangan sesungguhnya dimulai.

Retakan kecil pada dinding pipa, akar tanaman yang perlahan menerobos sambungan, atau endapan yang menumpuk di dasar saluran adalah masalah sepele yang bisa ditangani cepat jika terdeteksi sejak awal.

Jika dibiarkan, masalah-masalah tersebut berkembang menjadi kerusakan besar yang biaya perbaikannya melampaui biaya perawatan rutin yang seharusnya dilakukan.

7. Korosi dan Degradasi Material dalam Jangka Panjang

Setiap material pipa memiliki batas ketahanan terhadap lingkungan di sekitarnya. 

Pipa besi atau baja bisa berkarat jika tidak dilindungi dengan baik. Pipa beton bisa keropos jika tanah di sekitarnya mengandung kadar asam atau sulfat tinggi. Pipa PVC pun bisa menurun kualitasnya jika terpapar senyawa kimia tertentu dalam waktu lama. 

Karena itu, sebelum menentukan material pipa, pahami dulu karakteristik tanah dan air di lokasi proyek.

Peran Pemilihan Material Pipa dalam Umur Sistem Drainase

Pemilihan material pipa adalah salah satu keputusan paling berpengaruh dalam perencanaan drainase, karena setelah sistem terpasang, kesalahan dalam hal ini sangat sulit untuk dikoreksi.

Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat memilih material pipa, yakni:

  1. Ketahanan terhadap korosi. Pipa yang tidak tahan terhadap kandungan kimia tanah atau air limpasan akan cepat terdegradasi. Material HDPE dan PVC cocok untuk kondisi tanah yang agresif ini.
  2. Kemampuan mengikuti pergerakan tanah. Pipa yang fleksibel tidak mudah retak saat tanah di sekitarnya bergerak atau turun, sedangkan pipa kaku  berisiko patah dalam kondisi yang sama. 
  3. Kerapatan sambungan. Semakin sedikit titik sambungan dan semakin rapat setiap sambungannya, maka semakin kecil peluang terjadi kebocoran.

Ketiga faktor ini menentukan seberapa lama sistem drainase dapat beroperasi tanpa gangguan, serta seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan selama masa pakainya.

Mengapa Banyak Sistem Drainase Modern Menggunakan Pipa HDPE?

Pipa HDPE semakin mendominasi proyek drainasekarena alasan teknis yang konkret di antaranya:

  1. Tahan deformasi tanah. Pipa HDPE bersifat fleksibel sehingga tidak mudah retak atau bocor meski tanah di sekitarnya bergerak atau turun. Karakteristik ini sangat berguna di wilayah dengan tanah lunak atau kawasan rawan penurunan tanah, seperti banyak ditemukan di kota-kota besar di Indonesia.
  2. Instalasi yang efisien. Dibandingkan pipa beton, pipa HDPE untuk air jauh lebih ringan sehingga lebih mudah dan cepat dipasang tanpa perlu alat berat. Selain itu, pipa HDPE bisa dipasang dengan metode tanpa galian terbuka (trenchless).
  3. Ketahanan kimia tinggi. HDPE tidak bereaksi terhadap asam, basa, maupun senyawa kimia yang umum ditemukan dalam air limpasan perkotaan dan tanah yang bervariasi. 
  4. Total lifecycle cost yang rendah. Harga pipa HDPE memang bisa lebih tinggi dari PVC di awal. Namun jika diperhitungkan keseluruhan, total pengeluaran untuk HDPE lebih hemat dibandingkan material yang murah di awal tapi boros nantinya.

Kesimpulan

Di antara semua faktor yang menyebabkan sistem drainase cepat rusak, pemilihan material pipa adalah keputusan paling sulit diubah setelah sistem terpasang. 

Maka wajar jika semakin banyak proyek infrastruktur kini memilih pipa HDPE sebagai solusi drainase jangka panjang.

Nah, untuk mendapatkan pipa HDPE sesuai standar teknis, pilih distributor yang tepercaya dan berpengalaman. ALVApipe adalah salah satu distributor pipa HDPE di Indonesia yang siap mendukung kebutuhan proyek konstruksi dan infrastruktur, mulai dari pengadaan produk hingga konsultasi pemilihan spesifikasi yang tepat.

Dengan produk yang tepat dan dukungan teknis memadai, menentukan material drainase yang sesuai bisa menjadi keputusan mudah sejak hari pertama perencanaan.