ALVApipe

Cara Instalasi Pipa Air Bersih agar Tahan Lama dan Minim Perawatan

cara instalasi pipa air bersih

Instalasi pipa air bersih yang dikerjakan asal-asalan akan terasa baik-baik saja di awal. Masalahnya biasanya baru muncul beberapa bulan atau tahun kemudian.

Bentuknya bisa berupa kebocoran di balik dinding, tekanan air yang turun bertahap, atau kerusakan yang mengharuskan penggalian ulang dengan biaya lebih besar dari nilai pipa itu sendiri.

Kualitas distribusi air dalam satu sistem perpipaan juga sangat bergantung pada bagaimana sistem itu dipasang sejak awal. 

Pipa yang sama persis bisa bertahan puluhan tahun atau bermasalah dalam hitungan tahun, tergantung perencanaan jalur, pemilihan material, proses penyambungan, dan bagaimana sistem itu diuji sebelum beroperasi.

Dalam artikel ini, kita akan membahas langkah-langkah instalasi pipa air bersih yang sesuai standar teknis sebagai panduan bagi para profesional yang terlibat dalam pengerjaan maupun pengawasan proyek perpipaan. Simak sampai akhir!

Persiapan Sebelum Instalasi Sistem Pipa Air Bersih

1. Perencanaan Jalur Perpipaan

Sebelum satu batang pipa pun dipasang, jalur sistem harus direncanakan di atas kertas terlebih dahulu. 

Gambar kerja instalasi memuat titik sumber air, arah jalur distribusi, lokasi percabangan, posisi valve, dan titik-titik konsumsi seperti kran atau alat sanitasi.

Tanpa gambaran kerja ini, instalasi di lapangan rentan berubah secara mendadak. Ujung-ujungnya mengorbankan efisiensi jalur dan menambah jumlah sambungan yang tidak perlu.

Survei lapangan juga penting sebelum penggalian dimulai. Jalur pipa harus dipastikan tidak menabrak utilitas lain yang sudah ada di bawah tanah, seperti kabel listrik, saluran drainase, atau pipa gas. 

2. Pemilihan Jenis dan Spesifikasi Pipa

Tiga material yang paling umum digunakan untuk sistem air bersih adalah HDPE, PPR, dan PVC. Masing-masing punya karakteristik sesuai kondisi tertentu.

Pipa HDPE cocok untuk jalur distribusi utama yang ditanam di bawah tanah, misal di jalur panjang atau medan yang tidak rata. Sebab, fleksibilitasnya tinggi dan tahan  korosi. 

Sementara pipa PPR banyak dipilih untuk instalasi di dalam bangunan, terutama untuk jalur air panas, karena tahan terhadap suhu tinggi dan penyambungannya menggunakan metode heat fusion yang menghasilkan sambungan permanen. 

Terakhir, pipa PVC lebih banyak digunakan untuk jalur air dingin di dalam atau di atas tanah pada sistem dengan tekanan sedang.

Selain jenis material, spesifikasi teknis seperti kelas tekanan (PN) dan diameter nominal harus disesuaikan dengan tekanan kerja maksimum sistem yang direncanakan.

3. Persiapan Material dan Peralatan Instalasi

Semua material harus diperiksa kondisinya sebelum digunakan. Pipa yang tergores dalam, mengalami deformasi, atau memiliki label yang tidak mencantumkan standar produksi sebaiknya tidak dipasang. 

Lalu untuk proyek berskala besar, pemeriksaan dimensi aktual pipa secara sampling juga penting untuk memastikan kesesuaian dengan spesifikasi yang tercantum.

Peralatan instalasi yang disiapkan juga harus sesuai dengan metode penyambungan yang akan digunakan. 

Untuk butt fusion pada pipa HDPE misalnya, mesin las harus dalam kondisi baik dan dikalibrasi sesuai spesifikasi diameter dan SDR pipa yang digunakan. 

Operator yang mengerjakan penyambungan juga harus memiliki kompetensi memadai karena kualitas sambungan sangat bergantung pada keahlian di lapangan.

Langkah Umum Instalasi Pipa Air Bersih

1. Persiapan Area Kerja dan Penggalian

Sebelum penggalian dimulai, area kerja harus dipasangi rambu peringatan dan dipastikan aman dari lalu lintas kendaraan maupun pejalan kaki. 

Selanjutnya untuk galian cukup dalam, dinding galian perlu diberi penopang atau dibuat dengan kemiringan yang aman untuk mencegah longsor.

2. Kedalaman dan Lebar Galian

Kedalaman galian ditentukan berdasarkan beban di permukaan dan jenis sistem. Misal, untuk jalur di area bebas beban kendaraan, kedalaman minimum 60 cm umumnya sudah cukup. 

Sementara di area yang dilalui kendaraan ringan, standar umum menganjurkan kedalaman 90 hingga 120 cm. Lalu, untuk jalur di bawah jalan raya yang dilalui kendaraan berat, kedalaman minimal 150 cm.

Lebar galian mengikuti formula dasar yaitu diameter luar pipa ditambah 30 hingga 45 cm, dengan kelonggaran 15 hingga 20 cm di setiap sisi pipa. 

Kelonggaran ini diperlukan untuk memudahkan proses penyambungan di dalam galian dan memberikan ruang cukup untuk pemadatan material di sisi pipa.

3. Stabilitas Tanah

Jika galian menembus lapisan tanah yang jenuh air atau kondisi tanahnya tidak stabil, dewatering atau pemompaan air dari dalam galian harus dilakukan sebelum pipa dipasang. 

Air yang menggenang di dasar galian bisa mengganggu kepadatan bedding dan mempengaruhi posisi pipa setelah terpasang.

4. Persiapan Dasar Pipa (Bedding)

Dasar galian harus rata, padat, dan bebas dari batu tajam atau material keras yang bisa merusak permukaan pipa. 

Di atas dasar galian, hamparkan pasir halus atau material granular setebal 10 hingga 15 cm sebagai alas pipa. 

Bedding yang baik berfungsi mendistribusikan beban tanah supaya merata ke sepanjang badan pipa, mencegah konsentrasi beban di titik tertentu yang bisa menyebabkan deformasi.

5. Penempatan dan Penyusunan Pipa

Pipa diturunkan ke dalam galian dengan hati-hati, tidak dilempar atau diseret di atas permukaan berbatu. 

Selama proses penurunan, hindari benturan keras yang bisa menyebabkan goresan atau keretakan pada dinding pipa.

Setelah pipa berada di posisinya, periksa alignment atau kelurusan pipa sebelum proses penyambungan dimulai. 

Pipa yang tidak lurus akan memberikan beban tambahan pada sambungan dan pada tikungan. Dalam jangka panjang, ini bisa mempercepat kerusakan di titik-titik tersebut.

6. Proses Penyambungan Pipa

Metode penyambungan harus sesuai dengan jenis material yang digunakan. Contoh, untuk pipa HDPE, butt fusion adalah metode utama pada jalur lurus dan diameter menengah ke atas. 

Prosesnya melibatkan pemanasan kedua ujung pipa hingga meleleh pada suhu tertentu, kemudian ditekan bersama dengan tekanan yang dikontrol, dan dibiarkan mendingin sebelum sambungan diberi beban. 

Suhu, tekanan, dan waktu pendinginan harus sesuai spesifikasi yang ditentukan oleh produsen pipa dan mesin las yang digunakan.

Lalu, untuk fitting atau percabangan, atau di lokasi yang sulit diakses mesin butt fusion, sebaiknya pilih metode electrofusion. 

Terakhir, untuk pipa PPR di dalam bangunan, standarnya menggunakan metode heat fusion dengan mesin las PPR.

7. Pengujian Tekanan (Pressure Test)

Pengujian tekanan wajib dilakukan sebelum galian ditutup. Tujuannya memastikan tidak ada kebocoran pada sambungan sebelum sistem tidak bisa lagi diakses. 

Standar umum yang digunakan adalah pengujian hidrostatik pada tekanan 1,5 kali tekanan kerja nominal selama durasi yang cukup, biasanya antara 2 hingga 24 jam tergantung panjang jalur yang diuji.

Selama pengujian, seluruh sambungan diperiksa secara visual. Penurunan tekanan yang melebihi toleransi mengindikasikan adanya kebocoran sehingga harus dilokalisir dan diperbaiki sebelum pengujian diulang.

8. Penutupan Galian dan Pemadatan Tanah

Setelah pengujian tekanan dinyatakan lulus, galian bisa ditutup. 

Material timbunan pertama yang bersentuhan langsung dengan pipa harus bebas dari batu tajam. Dengan lapisan pasir atau material granular halus setinggi minimal 30 cm di atas pipa sebelum material timbunan umum digunakan.

Pemadatan dilakukan lapis per lapis. Ketebalan tiap lapisan tidak lebih dari 30 cm, menggunakan alat pemadat yang sesuai. 

Standar Teknis yang Perlu Diperhatikan dalam Instalasi Pipa

1. Alignment Pipa 

Kelurusan pipa harus dijaga konsisten sepanjang jalur. Tikungan dibuat menggunakan fitting standar, bukan memaksakan lekukan pada badan pipa. 

Jika lekukan tidak bisa dihindari, cukup pastikan radius tikungan masih dalam batas yang diizinkan oleh spesifikasi produsen.

2. Radius Tikungan 

Setiap jenis dan diameter pipa memiliki batas radius tikungan minimum yang diperbolehkan. Melampaui batas ini bisa menyebabkan penipisan dinding pada sisi luar tikungan yang melemahkan struktur pipa secara permanen.

3. Perlindungan terhadap Beban Eksternal 

Jalur pipa yang melewati area dengan beban berat di permukaan, seperti di bawah jalan kendaraan atau area operasional alat berat, menanggung tekanan dari atas yang besar dibandingkan jalur biasa. 

Nah, untuk kondisi seperti ini, pipa perlu dilindungi dengan casing atau selubung tambahan yang dipasang di luar pipa utama. Jadi, beban dari permukaan ditanggung oleh casing terlebih dahulu sebelum sampai ke pipa.

4. Kontrol Tekanan Sistem 

Tekanan dalam sistem harus dijaga di bawah pressure rating pipa yang digunakan. 

Yang perlu diingat, tekanan dalam sistem tidak selalu stabil, karena saat pompa menyala atau mati secara mendadak, ada lonjakan tekanan sesaat yang bisa melampaui tekanan operasional normal. 

Kondisi ini yang perlu ikut diperhitungkan saat menentukan spesifikasi pipa.

5. Dokumentasi Instalasi 

Catat posisi tepat, kedalaman, dan detail sambungan setiap jalur pipa dalam bentuk as-built drawing setelah instalasi selesai. 

Dokumen ini akan sangat dibutuhkan saat ada perbaikan, penambahan jalur, atau penggalian di area yang sama beberapa tahun kemudian.

Kesalahan Umum dalam Instalasi Pipa Air Bersih

1. Salah Memilih Spesifikasi Pipa 

Kesalahan paling umum terjadi adalah pipa dipilih berdasarkan harga termurah, tanpa mempertimbangkan tekanan kerja sistem atau kondisi lingkungan instalasinya.

Gejalanya memang tidak langsung terasa. Namun, dalam beberapa tahun sistem akan mulai menunjukkan masalah, seperti kebocoran berulang atau penurunan tekanan yang sulit dilacak sumbernya.

2. Penyambungan Tidak Sempurna 

Sambungan pipa yang tidak dikerjakan dengan benar tidak selalu terlihat bermasalah dari luar. 

Contoh, metode penyambungan butt fusion pada suhu atau tekanan yang tidak sesuai memang masih tampak menghasilkan sambungan yang rapi, tetapi sayangnya tidak cukup kuat menahan tekanan operasional dalam jangka panjang. 

Pressure test sebelum galian ditutup adalah satu-satunya cara untuk memastikan setiap sambungan benar-benar aman sebelum sistem tidak bisa lagi diakses.

3. Bedding Tidak Sesuai Standar 

Kondisi yang sering diabaikan di lapangan di antaranya dasar galian langsung digunakan sebagai alas pipa tanpa lapisan pasir, atau material timbunan mengandung batu dan kerikil tajam yang bersentuhan langsung dengan dinding pipa.

Kerusakannya memang tidak terjadi seketika, tetapi tekanan dan gesekan dari material keras itu akan perlahan menggerus dinding pipa dari luar hingga akhirnya bocor.

4. Tidak Melakukan Pressure Testing 

Pressure test yang dilewatkan demi mengejar waktu pengerjaan adalah keputusan yang risikonya tidak sebanding. 

Kalau ada kebocoran yang baru terdeteksi setelah galian ditutup, satu-satunya cara memperbaikinya adalah menggali ulang. 

Sayangnya, cara ini memakan biaya dan waktu yang lebih besar dibandingkan kalau masalah itu ditemukan dan diperbaiki sebelum penimbunan.

5. Pemadatan Tanah Tidak Optimal 

Tanah yang dipadatkan tergesa-gesa atau tidak merata akan mengalami penurunan di titik-titik tertentu seiring waktu. 

Ketika tanah turun tidak seragam, pipa yang ada di dalamnya ikut menanggung tekanan yang tidak merata. Ini yang sering menjadi penyebab kerusakan pada jalur pipa di bawah jalan atau area rutin dilalui kendaraan berat.

Tips Agar Sistem Pipa Air Bersih Lebih Tahan Lama

Sebagian besar masalah pada sistem pipa air bersih sebenarnya bisa dicegah sejak awal. 

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan agar sistem yang dipasang bisa bertahan sesuai umur desainnya.

  1. Gunakan material sesuai tekanan kerja. Hitung tekanan maksimum sistem dan pastikan pipa memiliki pressure rating yang cukup untuk mengakomodasi kondisi terburuk.
  2. Gunakan metode sambungan standar. Hindari improvisasi dalam metode penyambungan. Setiap jenis pipa memiliki metode sambungan yang direkomendasikan berdasarkan pengujian.
  3. Lakukan pengujian sebelum operasional. Berupa pressure test sebelum penimbunan dan setelah penimbunan sebagai verifikasi akhir.
  4. Dokumentasi as-built drawing. Catat posisi tepat setiap jalur pipa, kedalaman penanaman, lokasi sambungan, dan spesifikasi material yang digunakan.

Penutup

Kualitas instalasi pipa air bersih menentukan seberapa andal sistem akan beroperasi dalam jangka panjang. Dan keandalan itu sebagian besar ditentukan dari kualitas material yang digunakan.

Supaya sistem bisa bertahan sesuai umur desainnya, pilih pipa dari produsen yang memenuhi standar SNI dan ISO untuk memastikan dimensi, kekuatan, dan ketahanan jangka panjang materialnya sudah terverifikasi.

Seperti dari ALVApipe, produsen pipa HDPE Indonesia dengan pengalaman 20+ tahun yang melayani proyek infrastruktur dari skala menengah hingga besar. 

Khusus kebutuhan sistem distribusi air bersih, lini produk ALVApipe Water tersedia dalam berbagai ukuran dan kelas tekanan dengan standar kualitas tersertifikasi. 

Sedangkan bagi proyek yang membutuhkan pipa untuk instalasi di dalam bangunan, ALVApipe PPR hadir sebagai pilihan untuk sistem air bersih dan air panas di gedung maupun perumahan.

Semoga panduan ini bermanfaat sebagai referensi dalam merencanakan dan mengawasi pekerjaan instalasi pipa air bersih di proyek Anda!